Agen Tiket Pesawat di Kutai Hubungi 021-9929-2337 atau 0821-2406-5740 Alhijaz Indowisata adalah perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang tour dan travel. Nama Alhijaz terinspirasi dari istilah dua kota suci bagi umat islam pada zaman nabi Muhammad saw. yaitu Makkah dan Madinah. Dua kota yang penuh berkah sehingga diharapkan menular dalam kinerja perusahaan. Sedangkan Indowisata merupakan akronim dari kata indo yang berarti negara Indonesia dan wisata yang menjadi fokus usaha bisnis kami.

Agen Tiket Pesawat di Kutai Alhijaz Indowisata didirikan oleh Bapak H. Abdullah Djakfar Muksen pada tahun 2010. Merangkak dari kecil namun pasti, alhijaz berkembang pesat dari mulai penjualan tiket maskapai penerbangan domestik dan luar negeri, tour domestik hingga mengembangkan ke layanan jasa umrah dan haji khusus. Tak hanya itu, pada tahun 2011 Alhijaz kembali membuka divisi baru yaitu provider visa umrah yang bekerja sama dengan muassasah arab saudi. Sebagai komitmen legalitas perusahaan dalam melayani pelanggan dan jamaah secara aman dan profesional, saat ini perusahaan telah mengantongi izin resmi dari pemerintah melalui kementrian pariwisata, lalu izin haji khusus dan umrah dari kementrian agama. Selain itu perusahaan juga tergabung dalam komunitas organisasi travel nasional seperti Asita, komunitas penyelenggara umrah dan haji khusus yaitu HIMPUH dan organisasi internasional yaitu IATA. Agen Tiket Pesawat di Kutai

Saco-Indonesia.com - Rumah bergaya Viktoria ini berada di Woodstock, Illinois, Amerika Serikat. Penampilannya klasik, sama seperti rumah-rumah tua pada umumnya. Namun, rumah tersebut ternyata menyimpan daya tarik tersendiri. Pada awal tahun 1990-an, rumah ini pernah menjadi latar salah satu film komedi Hollywood yang menampilkan aktor Bill Murray.

Phil, tokoh yang diperankan aktor Bill Murray dalam film produksi 1993 berjudul "Groundhog
 Day" harus berulang kali mengalami hari yang sama dalam rumah ini. Bagi Phil, rumah bergaya Royal Victorian Manor tersebut mungkin seperti mimpi buruk. Namun, hal yang berbeda bisa jadi dirasakan oleh para pecinta rumah tua. 
Rumah tersebut dibanderol dengan harga hampir satu juta dolar AS. Tepatnya, 985.000 dolar AS atau sekitar Rp 11,9 miliar. Keluarga muda yang ingin mulai membangun kehidupannya sangat cocok dengan rumah tersebut.


Rumah ini dibangun pada 1894. Di dalamnya terdapat delapan kamar tidur dan sembilan kamar mandi. Selain itu, rumah ini juga memiliki beberapa teras cantik, dan pagar di sekelilingnya. Meski rumah ini tampak klasik, namun bebererapa perabotannya sudah modern dan mudah digunakan. Anda tertarik?
Sumber :www.dailymail.co.uk/kompas.com
Editor : Maulana Lee
Dilego Senilai Rp 11,9 Miliar Untuk Rumah Klasik Ini

WASHINGTON — During a training course on defending against knife attacks, a young Salt Lake City police officer asked a question: “How close can somebody get to me before I’m justified in using deadly force?”

Dennis Tueller, the instructor in that class more than three decades ago, decided to find out. In the fall of 1982, he performed a rudimentary series of tests and concluded that an armed attacker who bolted toward an officer could clear 21 feet in the time it took most officers to draw, aim and fire their weapon.

The next spring, Mr. Tueller published his findings in SWAT magazine and transformed police training in the United States. The “21-foot rule” became dogma. It has been taught in police academies around the country, accepted by courts and cited by officers to justify countless shootings, including recent episodes involving a homeless woodcarver in Seattle and a schizophrenic woman in San Francisco.

Now, amid the largest national debate over policing since the 1991 beating of Rodney King in Los Angeles, a small but vocal set of law enforcement officials are calling for a rethinking of the 21-foot rule and other axioms that have emphasized how to use force, not how to avoid it. Several big-city police departments are already re-examining when officers should chase people or draw their guns and when they should back away, wait or try to defuse the situation

Police Rethink Long Tradition on Using Force

Artikel lainnya »